Cerpen dan Dongeng

Fat Papa


Karya Faras Fitri Fadilla
Aku menatap papa, gara gara papa aku suka dijauhi teman. “Ehh, ada anak fat papa.” pasti begitu teman-teman meledekku. “Sudah Rin, gak ada gunanya marah-marah gitu.” Dea sahabtku menenangkan agar aku tidak marah.
Hari ini, aku diledeki lebih parah dari kemarin. PAPA!! Aku sampai marah-marah sepulang sekolah. Papa ku gendut, beratnya 98 kg. Banyak makan, padahal Mama mengingatkanya agar tidak banyak makan nanti obesitas katanya. Mama pernah menyembunyikan toples cemilan yang bikin gendut. Tapi, Papa malah marah. “Diet dong Paaaaaa....!!” kataku gemas.
Papa suka sekali makan ayam tiap pulang kerja, Papa selalu memakan berbagai macam makanan berbahan ayam. “Sekali-kali ikan dong Pa! Lebih sehat, lemaknya dikit lagi!” kata Mama suatu saat. Papa tetap tidak peduli. Mama dan aku akhirnya memutuskan menyembunyikan dompet Papa, agar papa tidak membeli ayam lagi
“Ma, mana sih dompet Papa? Padahal ada ayam pedas di kantin dekat kantor Papa, cepat cari Ma!” kata Papa sambil mengobrak-abrik lemari. “Papa! Udeh deh! Papa bawa dua puluh ribu aja, cepetan nih! Aku mau telat!” kataku ngomel-ngomel. “Karin, udah kamu pake sepeda aja. Penting nih! Biar papa sehat.” kata Papa membelaku.
“Sehat darimana Pa? Hongkong? Amerika? Jepang?” aku segera menarik tas ranselku dan berjalan menuju mobil. “Buruan Papa!!!” seruku. Papa sangat kesal dan menutup pintu kamar dengan keras. “Berangkat sendiri!” seru Papa. Aku langsung keluar dari mobil dan mengambil sepeda di garasi.
5 menit kemudian, aku telah sampai disekolah. Dea menyambutku didepan kelas. Tiba tiba...
“Eh ada anak papa badut, hihihi... Papamu tambah gendut! Anak papa badut!” seru seorang temanku. “Hahaha... Anak Papa badut! Papa gendut! Hahaha...” ujar yang lain. Aku menangis dan segera mengusir para monster penganggu. “
Hai teman teman!” Rizka menyapa kami. Aku punya sebuah pantun nih, begini pantunnya
“Disirkus ada badut
Sukannya memberi saran
Ada anak papa gendut
Awas nanti ketularan”
Rizka berpantun bergaya bak penari. “Wuhaaahaha....! Pinter kamu Riz!” teman-teman yang lainnya tertawa. Mereka menjadi menghidarku seperti penyakit gendut itu bisa menular saja.
“Eh, kamu Rizka apa apaan sih? Kalau kamu yang gendut, emang nya kamu mau diledekin begitu?” Dea dengan kasar menarik lengan Rizka. “Aduhh !!” Rizka menangis sambil meniup-niup tangannya bak putri tergores pisau tajam. “Oh, tanganku jadi lecet nih! Kamu kasar banget ya! Huhh!” Rizka mengibaskan rambutnya dengan angkuh.
Rizka menatap Dea, dan berkata lagi “Jadi kamu bela dia ya? Sayangnya lawan kamu adalah teman sekelas! Dan apakah kamu tau Dea? Aku gak bakal pernah gendut! Aku selalu melakukan program diet setiap bulan!” cehis Rizka sinis. 
“Oh ya? Baiklah. Jadi, apa yg harus kita lakukan ya Rin?* Dea pura-pura berpikir dan tersenyum licik. “Baiklah, Rin ikut aku!!” Dea menarik lenganku. Rupanya, Dea mengajaku ke kantor kepala sekolah.
“Pak, Rin diledek lagi!” Dea berkata pelan.
“Baik! Nanti Bapak hukum mereka!”

Sepulang dari sekolah. Dengan wajah masamnya, Mama menyuruhku ikut dengannya. Aku hanya bisa menunduk. Mama mengelus rambutku sambil mengajakku berbincang di ruang tamu. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar